Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Thursday, January 30, 2014

Mengapa Pegawai Pajak Tidak Seramah Pegawai Bank?

Judul itu saya tulis mengawali tulisan kali ini. Kalimat yang langsung saya jadikan judul itu adalah hasil dari obrolan ringan dengan seorang teman. Saya tentu menjawab dengan antusias pertanyaan tersebut. Nampaknya teman saya tersebut juga akhirnya mulai menyadari penjelasan saya. Atau pernahkah rekan pembaca mengalami atau mengungkapkan hal serupa? menurut saya itu hal wajar karena tidak semua orang benar-benar tahu peran dan tanggung jawab pegawai pajak. Saya sendiri bukanlah seorang pegawai pajak, tetapi saya sangat mengapresiasi peran dan tanggung jawab mereka atas keberlangsungan kehidupan roda perekonomian negeri ini.

Kalimat ini menarik untuk saya jabarkan di sini agar semua orang memahami dan ke depan tidak cenderung salah persepsi tentang pajak besarta hal yang melekat bersamanya, pegawai pajak. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menaikkan atau merendahkan suatu pekerjaan, hanya ingin berbagi pemikiran saya tentang kalimat yang saya terima dari teman tersebut yang berseloroh, "...soalnya pegawai pajak tidak seramah pegawai bank". 

Saturday, December 22, 2012

Hari Ibu, I Love You MOM

Sebagai insan tanggal 22 Desember 2012 adalah tanggal yang istimewa. Di tanggal ini diperingatilah sebagai hari Ibu. Mengapa istimewa? Ya karena kita semua ini terlahir dari rahim seorang perempuan, seorang yang berjuang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melihat kita menagis pertama kali, menggendong di perutnya selama 9 bulan, menanggung sakit yang tak terperi saat melahirkan kita. Tidak sampai di sana saja, setelah kita lahir, pekerjaan seorang perempuan ini tidaklah selesai. Masih ada pekerjaan yang menanti, pekerjaan yang teramat mulia, yaitu mendidik kita. 

Sangat wajar saya rasa hari ibu begitu diagungkan seorang yang mencoba menebak-nebak dan mencoba merasakan apa yang telah seorang perempuan yang ia panggil “IBU” saat mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidiknya. Seorang yang selalu berdoa yang terbaik untuk kita, seorang yang pertama kali meneteskan air mata ketika melihat kita menderita, seorang yang pertama kali juga menangis bahagia lantaran mendapati kita bisa dibanggakan olehnya. 

Kawan-kawan semuanya, siapa pun Anda, apa pun pekerjaan Anda, dan bagaimana pun keadaan Anda sekarang... saya ingin mengajak kita semua untuk kembali merenungi hari yang kita agungkan ini sebagai momentum untuk membuat menangis seorang perempuan, perempuan yang kita panggil “IBU”. Mengapa menangis? Karena tangis adalah simbol kekuatan seorang Ibu, buatlah Ibu kita menangis, menangis, dan menangis... ya, menangis bahagia yang dalam karena melihat kita tumbuh dan berkembang seperti apa yang ia impikan dan harapkan.

Walaupun kita saat ini mungkin saja jauh darinya, sudah mempunyai keluarga kecil, tetap saja, kita adalah anak kecilnya yang selalu ia khawatirkan. Ia selalu memikirkan kita, baginya kita adalah segalanya. Jadi, dari sekarang mari mengabdilah di kaki ibu kita. 

Doa ananda untuk Ibunda:
Ibu, walau kita terpisahkan oleh laut dan jarak... hati ananda akan selalu ada di dekat ibu, ananda sangat mencintai Ibunda... terima kasih yang tak mungkin ananda bisa balas atas semua jasa dan pengorbanan ibunda hingga ananda bisa seperti sekarang ini.
Ibu... ananda selalu berdoa untuk kesehatan ibu, untuk kebahagian ibu... karena ibu sangat pantas mendapat kebahagiaan itu...
Ibu... Tuhan menyediakan surganya untuk ibunda, ananda mengabdi di telapak kaki ibunda....
Ibu... sebelum ibunda kelak mendapatkan surga itu... ananda akan senantiasa berdoa kepada Tuhan agar ananda diberi kesempatan untuk mempersembahkan sedikit kebahagiaan untuk ibunda.
Ibu... ananda ingin Ibunda melihat pula ananda mendidik calon ibu dari anak-anak ananda, membesarkan anak-anak yang akan memanggil ibunda nenek...
Ibu... tak akan ada yang bisa memisahkan hati ananda ke ibunda...
Ya Tuhan... Engkau Yang Maha Kuasa, Maha segalanya... berikanlah Ibu hamba kesehatan dan umur yang panjang agar kelak bisa mendampingi hamba dalam membina keluarga kecil hamba...
Beri Ibu hamba selalu kebahagiaan yang amat pantas ia dapatkan ya Tuhan... sayangi dia, beri dia kekuatan dan kebijaksanaan untuk terus menjadi seorang yang selalu kami sayangi dan hormati di dunia dan di akhirat...
Bu... ananda yakin, ibunda pasti bisa merasakan pula hati ananda yang terpisah oleh laut dan darat, doakan ananda bisa menjadi kebanggaan ibunda selalu...

I love you so much mom...
I’m proud of being your son...
Love and Regard always....

Sunday, April 15, 2012

Life Is Giving Not Asking

Beberapa hari terakhir saya banyak merenungkan apa yang telah saya lakukan, apa yang orang pikirkan terhadap perbuatan saya, dan bagaimana saya sebaiknya  bersikap. Sikap kita mencerminkan kepribadian kita. Kepribadian kita mencerminkan pemikiran-pemikiran kita, hasrat-hasrat kita, serta harapan-harapan kita. Pikiran kita adalah hasil dari perenungan dan pengolahan emosi kita.

Manusia adalah mahluk berakal, itulah yang membedakan manusia dengan mahluk Tuhan yang lain. Manusia dalam dirinya sendiri dapat memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya serta orang-orang disekitarnya melalui perenungan-perenungan lewat akal. Manusia mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ia hadapi dengan cara yang berbeda satu sama lainnya. Dan manusia mampu mengubah peradabannya karena akalnya.

Thursday, November 24, 2011

Tuhan Sahabat Terbaik

Bisakah kita semua bayangkan, jika setiap kita menghirup oksigen kita harus bayar? Setiap kita berbicara harus mengisi pulsa layaknya alat komunikasi? Setiap kita melangkah atau bergerak kita harus membeli bahan bakar? Jika itu terjadi, bisa dibayangkan betapa berat hidup ini. Tapi hal itu tidak terjadi dalam hidup kita, Tuhan memberi kenyamanan bagi kita. Tuhan menciptakan pohon untuk memproduksi oksigen agar makhluk hidup di muka bumi ini bisa bernafas dengan baik. Tuhan memberi kita pita suara yang ajaib agar kita bisa berbicara tanpa berbayar. Tuhan menciptakan engsel yang tak ada tandingannya sehingga kita bisa bergerak, berjalan dengan baik.

Kalau dihitung-hitung, nikmat yang Tuhan berikan tidak akan pernah bisa kita hitung. Selama ini saya yakin, kita melupakan nikmat Tuhan dan kita cenderung menuntut Tuhan mengabulkan doa-doa kita yang berasal dari nafsu kita akan sesuatu. Tapi beruntunglah kita semua karena Tuhan tidak pernah perhitungan memberikan kita apa pun yang kita inginkan. Perlu diingat, bukan semua keinginan kita yang Tuhan berikan tetapi yang terbaik buat kitalah Tuhan beri. Mungkin saja “A” baik menurut kita pribadi, tapi Tuhan lebih tahu yang terbaik itu “B” untuk kita. teruslah kita semua menjadi pribadi-pribadi yang pandai mengucap syukur kepada Tuhan.

Thursday, November 10, 2011

Pemimpin Itu Bagaikan Buah, Bambu, dan Pohon

Isu-isu kepemimpinan dewasa ini santer menyambangi rongga telinga kita. Sebuah pengharapan dan sandaran kepercayaan dialamatkan pada ia yang ditampuk pimpinan. Memimpin itu bukan hal yang mudah, diperlukan suatu penyerahan setulusnya dari dalam diri kita jika kita dipercaya mempimpin. Saya tidak percaya pemimpin yang baik itu adalah ia yang mementingkan dirinya sendiri. Seorang disebut pemimpin jika dia mau dan sanggup mengiklaskan kepentingan-kepentingannya untuk mereka yang dipimpinnya. Sepertinya kata-kata saya ini bak kecapan embun di nuansa yang kering. Yah, setidaknya saya memimpikan sebuah perubahan yang nyata. Perubahan yang diinisasi oleh para pemimpin kita. jika saja hal itu terjadi, maka kata-kata “Korupsi”, “Kemiskinan”, “Pengangguran”, dan Saudara-saudaranya hanya akan menjadi perbendaharaan kata di kamus. Hanya bisa kita temui saat sibuk membolak-balikkan kamus besar yang menyimpan rapat-rapat kosa kata tersebut.

Lantas, dari manakah kesimpulan-kesimpulan yang saya uraikan di atas? Tentunya dari adonan kue yang tersaji di meja kehidupan sehar-hari. Saya belum menemukan sosok pemimpin yang benar-benar saya idamkan. Setidaknya saya memiliki kriteria, sosok yang benar-benar menghayati posisinya. Mengapa dia memimpin, siapa yang ia pimpin, dan bagaimana sebaiknya saya berlaku? Rentetan pertanyaan-pertanyaan itu tentu mudah dijawab oleh sosok pemimpin sejati. Lihatlah kondisi negara kita sekarang ini? Pemimpin hanya diukur dengan jabatan, kekuasaan, dan uang. Tidak lebih. Dia yang sanggup mencapai jabatan tertinggi, merampas kekuasaan yang tidak semestinya, serta mengisi pundi-pundi kantong pribadi dengan rupiah selama ini diamini adalah seorang pemimpin. Itukah yang kita sebut pemimpin? Saya katakan tidak!

Tuesday, October 18, 2011

Pohon (part I)

Pohon. Saya sangat menyukai pohon. Banyak nilai yang bisa kita ambil dari sebuah pohon. Mungkin saja selama ini kita acuh dengan lingkungan sekitar, kita tidak menyadari setiap saat selalu berdampingan dengan si tuan pohon. Merasakan manfaat darinya. Kali ini saya tidak membahas peranan pohon di kehidupan kita secara ilmiah, saya kali ini lebih membahas “Filosofi dari pohon”.

Momen mengingat-ingat pohon, jadi teringat rumah saya di Lampung. Rumah yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, rumah yang dikelilingi pohon rindang, rumah yang masih menyediakan keteduhan tanpa asesoris pendingin ruangan. Ya, itulah rumahku. Rumah yang letakknya di desa, rumah di mana aku dibesarkan dan dididik kedua orang tuaku, rumahku tercinta.

Pernahkah Anda melihat pohon tumbuh di padang seorang diri tanpa pohon yang lain di sekitarnya? Dari sana kita akan mudah mengenali filosofi dari kehadiran pohon tersebut. Menjadi tempat singgah para burung-burung, menjadi tempat semut-semut hidup, menjadi pelindung pengembala dari sinar matahari di siang hari, menjadi penyangga air tanah, menjadi mesin penghasil oksigen yang kita hirup sehari-hari. Itu hanya peran yang bisa secara spontan kita nyatakan dari sebatang pohon saja.

Mungkin kali ini segitu saja dulu, karena besok saya quiz. Nantikan part lainnya ya... *O*. Semoga dengan merenung lagi kita bisa menggali nilai-nilai yang pohon ajarkan...

Saturday, October 1, 2011

Children Learn What They Live (Dorothea Law Nolte)


“Jika anak hidup dengan kritik, dia akan belajar menghukum.”

“Jika anak hidup dengan kebencian, dia akan belajar berkelahi.”

“Jika anak hidup dengan ejekan, dia akan belajar merasa malu.”

“Jika anak hidup dengan rasa malu, dia akan belajar merasa bersalah.”

“Jika anak hidup dengan toleransi, dia akan belajar sabar.”

“Jika anak hidup dengan dorongan, dia akan mempelajari keyakinan.”

“Jika anak hidup dengan pujian, dia akan belajar memuji.”

“Jika anak hidup dengan keadilan, dia akan belajar adil.”

“Jika anak hidup dengan keamanan, dia akan belajar memiliki keyakinan.”

“Jika anak hidup dengan persetujuan, dia akan belajar menyukai diri sendiri.”

“Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, dia akan belajar menemukan cinta di dunia.”

Baca bukunya Ucok Sarimah, “Etika Profesi Pegawai Negeri Sipil Departemen Keuangan R.I.”  ehh di dalemnya ada quote seperti ini. Yaudah karena saya merasa agar tidak saya saja yang bisa menikmati kata-kata mutiara ini sekaligus sebagai bahan renungan kita semua, akhirnya saya posting saja di blog ini.

Semoga bermanfaat....

Friday, September 30, 2011

Kerendahan Hati

Semakin hari saya semakin sadar posisi dan bagaimana saya harus bertindak. Selama ini masih banyak hal yang bertentangan dengan yang saya sadari saat ini. Bahwa jika kita ingin orang lain tahu kita kuat tidaklah harus menunjukkan kekuatan otot kita. Jika kita ingin agar orang lain tahu kita pintar tidaklah harus kita mengalahkan semua orang dan menjatuhkan orang lain demi terlihat pintar. Jika kita ingin dinilai orang lain bijak tidaklah harus menggurui semua orang. Cara-cara seperti itu menurut saya adalah cara yang kuno dan konvensional. Cara seperti itu sudah tidak lagi bisa diterima oleh semua orang. Memang ada yang masih menerima. Sudah saatnya kita melangkah ke arah perubahan diri. Menyadari jika banyak sekali cara-cara kita keliru. Dengan menyadari terlebih dahulu, kita tentu akan memiliki kemauan untuk membawa diri kita lebih baik.

Jika ingin orang lain tahu kita kuat bukan dengan menunjukkan kekuatan otot kita. Jika hal itu yang Anda lakukan, bukan orang lain yang menilai tapi Anda lah yang menganggap diri kuat. Belum tentu orang lain juga menilai Anda kuat. Masih ada cara-cara elegan yang bisa kita lakukan agar orang lain tahu kita ini kuat. Jika ingin orang lain tahu agar kita pintar tidaklah perlu kita medebat dan menjatuhkan lawan kita. Dan kebijakasanaan bukan dinilai orang dari cara kita menggurui orang. Dari ketiga ilustrasi itu caranya satu yaitu merendahkan hati kita.

Wednesday, August 31, 2011

Penghujung Agustus: Menjelang Penghujung Tahun

Tidak terasa sampai akhirnya kita dipenghujung bulan Agustus. Tinggal 4 bulan lagi akan memasuki tahun 2012. Tahun yang mudah-mudahan saya dan salah seorang teman janji akan saling memberi bunga dan coklat. “Promise?” haha, masih saja aku ingat. Mudah-mudahan tidak ada halangan dan satu angkatan kita wisuda bersama.

“Jangan pacaran dulu ya Gus”, kata salah seorang kerabatku. Ada lagi yang berkata, “Gus, kalau cari istri itu sama-sama anak STAN biar incomenya gede”. Kata yang terakhir itu sih tercetus dari salah satu seniorku yang sudah penempatan di salah satu instansi bergengsi di Indonesia, Khususnya bagi anak STAN spes Akuntansi.