Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Tuesday, October 1, 2013

Siap Mengabdi di Kementerian Keuangan

Selamat tanggal 1 Oktober. Ada yang tidak tahu tanggal ini diperingati sebagai hari apa? Ya betul, hari ini diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Sekedar mengingatkan pembaca barangkali lupa atau malah tidak tahu. Hari ini saya selain hari peringatan nasional, juga hari pertama saya di-TMT. Nah lho, apa tuh TMT? Jadi dalam istilah per-pns-an (tsaaah bahasanya) TMT adalah singkatan dari Terhitung Mulai Tanggal alias status kita mulai menjadi CPNS.

Nah barangkali penasaran ya kok saya ini muncul-muncul ngomongin PNS segala yang belakangan ini jadi kata-kata yang seriang diucapkan banyak orang. Mungkin suatu kebetulan saja, tahun di mana saya mengawali karir di Kementerian Keuangan dan tahun ini pula rekrutmen PNS besar-besaran hampir di semua kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan instansi-instansi pemerintah lainnya. Dan menurut sumber yang saya baca menyebutkan jumlah pelamar mencapai 2,5jt-an pelamar. Mungkin saja sudah bertambah. Hal ini mungkin karena efek dari diberlakukannya moratorium PNS hingga Desember 2012.

Sunday, January 22, 2012

Aku Cinta Mengajar (Membagi Ilmu)

Aktivitas saya akhir-akhir ini bertambah dan saya menikmatinya. Selain kuliah saya punya dunia di mana saya merasa sangat senang melakukannya—mengajar. Ya, setiap musim USM (Ujian Saringan Masuk) akan dimulai di saat itulah waktu bagi saya mengaktualisasikan diri saya mengajar atau lebih enaknya disebut membagi ilmu.

Aktivitas ini sudah saya lakukan sejak di tingkat 1 (semester 2) sampai sekarang. Mengajar di sebuah lembaga yang dapat memberikan ruang bagi saya untuk berinteraksi membagi ilmu kepada orang-orang yang penuh optimisme (red: adik-adik kelas SMA) yang bermimpi ingin membuat orang tua mereka bangga dan menjadi kebanggaan tentunya.

Ada banyak kisah yang terangkum rapi di memori saya dari awal saya mengajar USM. Diawali hari pertama mengajar telat 30 menit serta liku-liku cinta lokasi pun pernah menyambangi saya (yang ini mohon diabaikan, haha).

Tuesday, October 11, 2011

Di Balik Didikan Orang Tua (Nilai Kejujuran)

Akhir-akhir ini saya sering sekali mendengar kata “Kejujuran”. Lebih sering dari biasanya. Dosen di kelas pun membahasnya di sela-sela pembelajaran mata kuliah. Terutama dosen Audit Keuangan Sektor Komersial saya. Tentunya bukan tanpa maksud beliau menyampaikan ini kepasa kami (mahasiswa). Memang sekarang ini amat mahal kejujuran itu. Mudah diucapkan namun begitu sulit dilakukan. Tapi entah mengapa saya selalu yakin jika kejujuran itu bukan bermuara pada “Keajuran” namun saya lebih setuju jika kejujuran bertemu kata “Makmur”. Jujur itu makmur bukan ajur.

Kalau mau mengingat-ingat lagi kata kepala sekolah saya di SMK, beliau sering berkata kepada saya, “Sekolah untuk menghasilkan orang pintar itu banyak sekali, namun sekolah yang menghasilkan orang jujur itu tidak ada”. Memang benar adanya. Kejujuran itu pada dasarnya adalah keinginan hati bukan dari luar. Jika hatimu gundah tatkala melakukan sesuatu yang tidak jujur, maka jangan sekali lagi engkau melakukan hal yang sama dan serupa. Ikuti kata hatimu, karena hatimu tidak pernah berbohong.

Thursday, September 1, 2011

5 Hal Yang Bisa Kita Pelajari Dari Semut

Tuhan menciptakan semua makluk di dunia ini pasti ada alasan yang tepat. Septerti Tuhan menciptakan semut. Binatang yang kerap kita anggap merugikan dan mengganggu kita. Tapi, tentu saja itu anggapan yang tidak salah juga tidak benar. Semut hanya mencari makan dari makanan sisa yang tidak sengaja kita tumpahkan, apakah mereka salah? Tanpa makanan sisa itu, maukah kita semua memberi makan semut agar mereka tidak menggaggu kita? Tentu ini akan menambah pekerjaan kita bukan?

Kita bisa belajar beberapa keteladanan yang bisa kita terapkan di hidup kita sehari-hari. Lihatlah begitu Tuhan menciptakan binatang bernama semut. Mengapa semut harus memakan makanan sisa yang tumpah tadi? Karena jika makanan tersebut tidak dimakan semut maka sisa makanan tadi akan menjadi bakteri yang merugikan kesehatan kita. Nah, bukankah semut mencegah itu? Jadi jika sekarang kita melihat semut memakan makanan sisa tersebut jangan buru-buru marah-marah tidak jelas, tapi kita bisa secara bijak menyapu atau membersihkannya segera agar mereka tidak ada di dalam rumah kita.

Thursday, August 25, 2011

Belum Cukup

Kebiasaan yang menurut saya tidak rugi menghabiskan berjam-jam (hah, mumpung masih jadi mahasiswa) nonton film. Baru saja 2 film yang saya tonton akhir-akhir ini, saya sudah mendapat makna yang menurut saya pribadi menjadi sebuah pesan yang akan merasa dosa bagi saya jika tidak membaginya ke teman, saudara, dan semua orang yang semoga memiliki manfaat. Ada beberapa deretan kata yang masih saja saya ingat sampai sekarang, entah itu dari bacaan mana yang pernah saya baca. Begini nih kata-katanya, “I have a passion to change a world. I try my best to run it but I realize I could’t do it. Then I try to change my country but again I fail. I try to change my region but I fail and fail. Then I still think to change my environment but I fail. Then virtually I realize that if I want to change the world I must change myself”. Deretan kalimat itu masih saja bersarang dengan kokohnya di kepala saya dan kata-katanya menyesuaikan dengan versi saya lhoo, hehe.

Saya merasa perlu dan sangat perlu mengubah diri saya yang menurut saya masih jauh dari kata cukup untuk seorang lelaki beranjak menjadi pria, masih belum cukup mengenal dan memahami filosopi hidup ini dengan benar, masih belum cukup mendalami ilmu agama yang menuntun kita ke jalan Tuhan, masih belum cukup untuk mengarungi luasnya samudra kehidupan ini. Untuk itulah saya akan selalu tanggap akan hal-hal disekitar saya untuk perubahan saya ke arah yang lebih cukup.

Friday, August 19, 2011

Jalanku Ke STAN (Kampus Impianku)

Dua tahun yang lalu yakni bulan Juli, sehari sebelum USM STAN yaitu tanggal 20 (inget-inget lagi) Juli pagi aku bersama-sama sekitar 200-an kawan seperjuanganku memulai pertempuran menghadapi test yang menentukan masa depan kami. Hari itu pagi hari di Metro, Lampung Tengah. Deretan mobil-mobil bus patas parkir di depan tempatku bimbel. Kalau tidak salah ada sekitar 5 mobil besar yang akan memberangkatkan kami ke Jakarta (waktu usm tahun 2009 belum ada di kota Bandar Lampung). Raut wajah teman-temanku sangat berbeda-beda satu sama lainya, ada yang terlihat santai seakan perjalanan ini adalah perjalanan wisata, ada yang ekspresi wajahnya begitu tegang mungkin ini penentuan masa depannya. Dan ada yang tampak tidak berekpresi. Yah itulah kesan wajah-wajah teman-temanku sesaat sebelum keberangkatan kami ke Jakarta.

Dan toa dari bapak pembimbing bimbel pun menyala menandakan kami harus bergegas menuju mobil bus besar yang dengan arogan dan gagah siap mengantar kami, anak kampung ini, menyebrang pulau yang bernama pulau Jawa tepatnya Jakarta kota yang mungkin sebagian dari kami hanya dikenal lewat berita atau sinetron yang berlatar di kota yang dijiluki lebih kejam dari ibu tiri. Perjalanan kami ini merupakan rangkaian dari beberapa persiapan dan proses sebelum kami bisa mengikuti ujian saringan masuk STAN. Sebelumnya aku sudah pernah ke Jakarta untuk menyerahkan berkas persyaratan mengikuti USM STAN dengan rombongan yang sama juga. Entah mengapa perjalanan kali ini begitu menegangkan. Aku berusaha menguasai diriku untuk tetap tenang. Doa Ayah Ibuku sudah menyertaiku, Doa tersemat dan terlantunkan dalam hati, dan aku siap.

Wise Father

Suatu hari ada anak yang sangat pemarah dan tempramental tinggal bersama sang ayah. sang ayah melihat sifat itu pada anaknya karena acap kali marah ketika permintaannya tidak dituruti pasti barang-barang dirumah dihancurkannya. hal itupun ia lakukan ketika rasa marahnya memuncrat ke teman2nya. sang ayah tidak mendamprat atau berkata-kata kasar kepada anaknya tersebut karena sang ayah sangat bijak (tp koq beda ama anaknya??, yah namanya aja kisah nrative bikinan untuk memotivasi, heheh9x)

Kemudian sang ayah mempunyai ide, dan memberitahukan kepada anaknya yang pemarah teresbut, ketika sang anak sedang marah. sang ayah memberi seember paku dan martil kepada anaknya. si anak bingung, dan bertanya, "untuk apa paku2 dan martil itu ayah?", sang ayah menjawab dengan tanpa ekspresi kemarahan namun ekspresi mengayomi, "nak, tancapkanlah paku2 ini setiap kali kau marah ke pagar kayu di belakang rumahmu sebagai ganti kau menghancurkan perabotan rumah". pinta sang ayah. kemudian sang anak mengiyakan.